Pembangunan Jalan Tol Layang Di Makassar
K
|
ota Makassar yang kini kian maju tidak bisa disangkal lagi. Banyaknya
fasilitas-fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, hotel, dan gedung-gedung
yang menjulang tinggi menjadi bukti perkembangan kota Makassar dari waktu ke
waktu. Namun, suatu kota tidak “sah” dikatakan sebagai kota maju apabila
prasarana transportasi daratnya masih kurang mendukung. Dengan kata lain, suatu
kota belum dapat dikatakan maju apabila masih sering terjadi kemacetan di beberapa
ruas jalan. Seakan menyadari hal tersebut, pemerintah kota Makassar berusaha
mencari solusi dari permasalahan klasik tersebut.
Tidak lama lagi
kota Makassar akan segera memiliki jalan tol layang. Baru-baru ini dapat
dilihat pembangunan jalan tol layang disepanjang Jalan A.P. Pettarani. Proyek
jalan tol layang ini sudah dimulai pengerjaannya sejak April 2018. Tol layang
ini akan dibangun sepanjang 4,3 kilometer dan menggunakan biaya yang cukup
fantastis yakni Rp. 2,2 Triliun. Ditargetkan jalan layang ini rampung pada
tahun 2020 dengan PT Bosowa Marga Nusantara (BMN) selaku kontraktor. Jalan tol
layang ini memiliki beberapa keunggulan. Antara lain, menggunakan desain double decker. Teknologi pertama yang
diterapkan di Indonesia. Jalan tol layang ini akan menghubungkan Maros –
Bandara Sultan Hasanuddin – Jalan Tol Seksi I dan II – Jalan A.P. Pettarani
hingga ke Jalan Sultan Alauddin. Diperkirakan, jalan tol layang ini mampu
melayani hingga 45 ribu kendaraan dari arah Ir. Sutami saat beroperasi nanti di
tahun 2020. Ide membangun jalan tol layang ini sejak 2 tahun lalu. Walikota
Makassar, M. Ramdhan Pomanto bersama pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan
berjuang sampai ada investor yang tertarik.
Namun, Jalan
A.P. Pettarani yang diketahui merupakan salah satu jalan utama yang padat di
Makassar menjadi semakin macet semenjak proyek jalan tol layang ini dimulai.
Tidak jarang para pengguna jalan menghabiskan lebih banyak waktu di jalan.
Terlebih lagi saat waktu beraktivitas pada pagi hari dan saat berakhirnya aktivitas
yakni pada sore menjelang malam hari. Dengan adanya pembangunan jalan tol
layang, tentu membuat masyarakat semakin “dihantui” oleh kemacetan yang
berpotensi lebih parah dari sebelumnya. Tentu timbul pertanyaan, apakah jalan
tol layang ini benar bisa mengurai kemacetan di kota Makassar?
Selain masalah
kemacetan, tidak jarang masyarakat menyayangkan penebangan pohon yang dilakukan
guna terlaksananya proyek ini. Sedikitnya 1000 pohon telah dipangkas. Penebangan
pohon ini dinilai mengurangi ruang terbuka hijau yang dikhawatirkan dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Jalanan pun terlihat gersang
sehingga mengurangi keindahan kota. Hal ini telah ditanggapi oleh Direktur
utama PT. BMN. Beliau mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan 6000 bibit
berbagai jenis pohon untuk ditanam disekitar jalan tol layang nantinya.
Penggantian pohon oleh pelaksana proyek memang sesuai dengan perundangan
lingkungan hidup, yakni tetap aka nada kompensasi seperti satu banding lima.
Artinya setiap satu pohon yang kita tebang akan diganti dengan lima pohon baru
untuk penghijauan.
Terlepas dari
beberapa masalah yang ditimbul proyek ini, juga dibutuhkan kesadaran masyarakat
akan konsekuensi-konsekuensi yang timbul, sebab untuk menanggulangi persoalan
kemacetan, masyarakat harus rela menghadapi kemacetan setidaknya untuk 1 tahun
kedepan. Harapan masyarakat tentu saja menginginkan yang terbaik. Agar mereka
dapat menggunakan semua fasilitas dengan nyaman tanpa kendala dan agar jalan
tol layang ini benar-benar dapat menjadi solusi dari kemacetan di kota
Makassar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar